Cerpen: Merajut Impian

Seperti biasa, sebelum memulai aktivitasnya Lintang selalu menyediakan waktu untuk melakukan relaksasi di pagi hari. Sebagai penikmat kopi yang punya hobi membaca, tak jarang Lintang berselancar di dunia maya untuk memperoleh informasi terkini sekaligus mencari inspirasi penulisan artikel di media tempat ia bekerja. Menutup aktivitas lewat handphone mungilnya, sejenak Lintang membuka instagram story following-nya.

Semangat PB”. Demikian caption yang tertulis di IG story milik salah satu temannya yang kini telah menjadi penerima beasiswa. Kini, tabung pikiran Lintang penuh dengan segudang pertanyaan “kapan aku bisa seperti kakak itu?

Di sepanjang perjalanan menuju sekretariat media tempat Lintang bekerja, ia masih memikirkan niatnya untuk melajutkan studi S2.

Setibanya di parkiran, muncul teman seperjuangannya, menepuk pundak Lintang dan spontan membuyarkan lamunannya.

“Hey, ada apa dengan mu Lintang?”

Gak ada apa-apa.

Bagaimana rencana tulisan kita hari ini?, tanya Lintang sedikit mengalihkan pertanyaan Arya.

Liputan pemilihan rektor baru sepertinya cocok kita jadikan headline pekan ini.

**

Siang itu, udara terasa panas seakan matahari berada sejengkal di atas kepala.

Lintang mengurungkan niatnya pulang ke rumah dan kembali duduk di sekretariat untuk mendapat udara dingin dari AC, sembari membuka handphone dan berselancar di sosial media.

“Alhamdulillah tiket pesawat ”

Demikian caption yang tertulis pada salah satu postingan Instagram Story temannya.

Keinginan untuk lanjut studi dengan beasiswa  terus menghujani pikiran Lintang. Apalagi postingan teman-temannya benar-benar memberikan semangat untuk Lintang meskipun pernah gagal di tahun sebelumnya.

“Lintang, aku mau ke Kampung Inggris bulan depan, ucap Arya sembari menyuguhkan secangkir kopi kesukaan Lintang.

Ngapain kamu ke sana?

Aku pengen belajar bahasa Inggris di sana persiapan lanjut studi.

**

Sebenarnya, jauh sebelum Arya mengutarakan niatnya untuk melanjukan studi, Lintang sudah berniat untuk kembali menikmati bangku perkuliahan. Dua tahun merajut mimpi untuk bersekolah lagi, membuat Lintang berjuang sangat keras untuk bisa meyakinkan kedua orangtuanya.

Ternyata, itu semua tak semudah meniup lilin.

Lintang masih masih memiliki tanggungjawab sebagai salah satu pimpinan majalah lokal di kota kelahirannya itu.

“Sayang jika aku harus meninggalkan semuanya begitu saja”

Tapi, aku sudah tidak punya banyak waktu. Usiaku sudah cukup menjadi alarm untuk segera lanjut studi.

“Regenerasi” satu kata yang terlintas dipikiran Lintang setelah meneguk secangkir espresso.

Kak, kita butuh diskusi serius, pinta Lintang via WA.

Oke, dimana kita bisa diskusi?, tanya Arya.

As usual, at Strong Caffee.

Well, see you tomorrow J

**

“Lima tahun merintis media ini, rupanya membuat kita harus segera melakukan regenerasi, “ucap Lintang sedikit santai.

“Saya pun memikirkan hal itu, aku tahu kamu punya niatan yang sama dengan ku. Kita sudah cukup lama bertahan di sini. Kita butuh meng-upgrade diri dengan lanjut studi, agar kita bisa buat media ini berkembang lebih pesat lagi. Tapi, bukan berarti kita harus meninggalkan begitu saja,”tegas Arya.

Setelah melakukan diskusi begitu panjang, akhirnya Lintang dan Arya pun memutuskan untuk melakukan open recruitment pengurus majalah yang baru.

**

Akhir-akhir ini Lintang berpikir betapa sulit jalannya untuk meraih impian lanjut studi.

Dua tahun mengalah dengan impian, demi memenuhi kewajiban berbakti kepada orangtua. Karena orangtua masih mengiginkan Lintang berkarir daripada lanjut studi. Bukan hanya itu saja, Lintang juga sering mendapat penolakan dari beberapa orang terdekat, mulai dari kalimat-kalimat “untuk apa kamu lanjut studi?, mending kamu lanjutkan saja semua usaha yang sudah kamu rintis selama ini, kenapa gak daftar CPNS saja, ilmu S1 mu kan sudah cukup?”

Demikianlah tanggapan orang lain ketika Lintang memberi wacana bahwa ia akan lanjut studi.

Namun, bagi Lintang, hidup ini adalah pilihan. Kita yang memilih, kita yang menjalani dan kita juga yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi pada diri kita.

Memikirkan pendapat oranglain hanya akan menghalangi jalan kita keluar dari zona nyaman.

Jalan panjang menuju persiapan apply beasiswa pun Lintang lalui dengan jalan yang berbatu dan berliku.

Satu persyaratan yang harus dia lengkapi adalah sertifikat kemampuan bahasa asing.

Tak seberuntung Arya yang berkesempatan belajar persiapan TOEFL di Kampung Inggris, Lintang hanya berbekal pengetahuan seadanya karena tak punya waktu yang cukup untuk bisa fokus belajar sementara ia sedang berkawan dengan puzzle-puzzle kesibukannya.  Akhirnya Lintang pun nekat mengikuti tes TOEFL ITP tanpa persiapan yang begitu matang.

Tiba di lokasi tes, Lintang bertemu dengan beberapa peserta lainnya yang akan berjuang sama-sama menaklukkan TOEFL ITP.

“Kak, dari kampus mana?, tanya Lintang pada perempuan berhijab maroon burgundy yang duduk disebelahnya.

Saya dari IAIN. Kakak mau tes buat persiapan beasiswa ya?

Iya Kak, rencananya begitu,jawab Lintang sekenanya.

“Teman-teman ku pada tes di luar kota, karena sekalian persiapan di sana”. Sayang sekali aku gak bisa menikmati itu karena keterbatasan biaya, ungkapnya pada Lintang.

Mendengar kalimat tersebut membuat Lintang berpikir bahwa kemampuan bahasa asing masih menjadi problematika di kota ini. Sehingga banyak orang butuh fokus untuk belajar di luar kota.

Selesai mengikuti tes, Lintang kembali ke sekretariat bersama Arya untuk mengadakan pelatihan bagi calon peserta magang di medianya. Ini sekaligus menjadi pertemuan terakhirnya bersama Arya sebelum ia berangkat ke kampung Inggris.

 “Ini adalah percobaan keduaku Arya, aku pasrah dengan hasilnya”.

“Kita bukan hanya menuntut soal hasil yang akan kita gapai, namun kita nikmati saja segala prosesnya yang akan menciptakan hasil tersebut”

Lintang mengangguk seolah membenarkan pernyataan Arya.

Hari pengumuman pun tiba, kali ini Lintang yang mendapat giliran terlebih dahulu.

Jalan pikiranku mulai mengawang-awang. Kira-kira kalau aku tidak lulus pada kesempatan ini bagaimana?, pikir Lintang sesaat sebelum membuka aplikasi.

“Selamat Anda Lulus”

Demikianlah kalimat yang tertulis dalam aplikasi pengumuman.

Rasa haru pun kian menyelimuti perasaan Lintang.

Kini waktu telah menjawab segala inginnya di masa lampau.

Tak lama berselang, setelah Lintang mendapatkan hasil, kini giliran Arya.

Alhamdulillah Arya pun diterima di kampus impiannya Stanford University. Beasiswa LN yang menjadi incaran akhirnya berada di genggaman Arya.

Dua bulan kemudian, Lintang dan Arya akhirnya terpisah. Arya berangkat ke Amerika. Sementara Lintang menghabiskan waktunya untuk mengikuti pelatihan bahasa asing di kota Malang.

Rencananya Lintang akan menghabiskan waktunya di kota pendidikan ini selama 6 bulan. Waktu yan cukup panjang. Finally, Lintang bisa merasakan posisi sebagai anak rantau.

Ada banyak hal yang menjadi sesuatu yang patut Lintang syukuri.

Dalam kelas tersebut ia dipertemukan dengan teman-teman yang berasal dari beragam suku dan budaya. Hal ini bisa membuatnya menjadi pribadi yang lebih terbuka dan adaptif.

Dulu Lintang pernah menginginkan belajar bahasa asing di kampung Inggris bersama Arya. Tapi ia belum mendapat izin. Kali ini, lagi-lagi waktu menjawab segala keinginan yang berkelana dalam anggannya di masa lalu.

Percayalah, jika kita punya impian, maka rawatlah mimpi itu agar tetap hidup.

Berada dalam situasi yang dinginkannya, lantas tak membuat Lintang berpuas diri. Lintang merasa beruntung diajar para profesor yang ahli di bidang bahasa Inggris, hal ini membuat Lintang belajar dengan sebaik-baiknya. Rencananya, bersama Arya, Lintang akan mebuka kelas TOEFL untuk anak-anak di daerahnya yang punya keinginan besar merasakan  hal yang sama sepertinya, meraih beasiswa. Semua atas dasar rasa syukurnya kepada Tuhan, atas segala usahanya yang menggunung dan doa-doa yang terus mengirini ikhtiarnya selama ini.

Selain itu, Lintang merasa bahwa ada rasa tanggungjawab baginya, semakin banyak ilmu yang diperoleh maka semakin besar tanggung jawab nya untuk berbagi. 

The more we learn, the more we share..

You may also like