Pulang Kampung: 14 hari yang Berkesan

Enam bulan ditempa di kampus terbaik dengan pengajar-pengajar hebat memberikanku beragam pengalaman yang tak terlupakan. Bukan main-main, pergi pagi pulang sore sudah menjadi kebiasaan kami mulai Senin hingga Jumat. Bahagia sederhana, cukup menikmati Sabtu dan Minggu di lokasi rekreasi bersama teman sekelas, sesekali kami nonton bareng di bioskop. 19 Juli 2019 kami dilepas secara resmi oleh pimpinan kampus beserta jajaran dari Fakultas Sastra. Aku yang pada saat itu untuk kedua kalinya berbicara menggunakan bahasa Inggris dalam suatu acara masih merasa canggung untuk menyampaikan pesan dan kesan perwakilan peserta PDEC.

Sehari setelah acara pelepasan, aku balik ke tanah kaili. Terbang menggunakan burung besi, bebas biaya membuatku banyak bersyukur. Bila kembali ke masa lalu, aku hanya bisa melihat serunya teman-temanku yang bisa mengembara ke luar daerah entah untuk mengikuti kompetisi, pertukaran pemuda atau pun melanjutkan studi. Dalam benakku kapan aku bisa seperti mereka?  Aku pun terus menguatkan pikiran bahwa ada masanya.

Sepanjang perjalanan dari kost menuju bandara, aku selalu mendapat momen yang tak biasa, membuatku sejenak mengistirahatkan pikiran dari ambisiku di masa depan.

Singkatnya, ada seorang ibu lansia berkursi roda yang akan duduk di sebelahku yang akan bersama menuju bandara.

Mbak, ibu saya boleh duduk di sebelah mbak?

(Dipikiranku cuma satu, kalau seandainya posisi ibuku seperti beliau?)

Nggih, silahkann bu.

Maaf ya mbak kalau mengganggu.

Gak papa koq bu, mari (sembari membantu ibu itu duduk di kursi sebelahku)

Perjalanan menuju bandara Juanda memakan waktu sekitar 1.5 jam. Ku habiskan waktuku membaca sebuah buku yang direkomendasikan oleh temanku, karangan Ahmad Rifai Rifan.

Mata lumayan lelah, saat menutup buku tetiba suara lirih itu terdengar dari telinga kiriku.

“Nak, kamu kuliah ya?” Tanya ibu yang duduk di sebelahku.

“Iya Bu”, insya Allah Bulan depan.

“Kamu mau kemana?”

“Saya mau pulang ke Palu Sulawesi, Bu”.

“Owalah nduk, jauh ya kamu berani kesini. Hebat nak, jauh-jauh bisa kuliah kesini. Kalau bukan orang mampu mana bisa kuliah di sini”.

Perasaanku nyess seperti habis meneguk minuman dingin bersoda. Dan berpikir beruntungnya aku. Alhamdulillah Alhamdulillah bersyukur banyak-banyak sama Allah yang sudah mudahkan jalanku untuk bisa melanjutkan studi magister di Universitas Negeri Malang.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 90 menit, akhirnya kami tiba di bandara Juanda. Ibu itu turun di gate 1A dan aku masih lanjut ke gate berikutnya. Pamit sambil meminta doa dari ibu itu,

hati-hati ya Nak…

Iya mohon doanya ya Bu…

Setibanya di bandara, selanjutnya aku menuju Musolah untuk menunaikan salat zuhur.

**

Sembari menanti waktu keberangkatan sekitar empat jam-an lebih, aku lanjut menamatkan buku yang ku bawa.

Tepat pukul 19:00 WIB waktu keberangkatan Surabaya-Palu pun tiba.

Aku dan puluhan penumpang lainnya bergegas masuk ke dalam pesawat.

Perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu sekitar 2 jam.

**

Alhamdulillah finally aku tiba di Bandara Sis Aljufri dengan selamat.

Perjalanan kali ini lumayan simple karena bawang bawaan tidak begitu banyak.

Nampak dari jauh, si sibling kesayanganku sedang menunggu di depan pintu keluar.

Enam bulan terpisah, rupanya menyimpan segala kerinduan antara dua saudari ini.

“Akak, nanti kita jalan-jalan ya”,tanya adikku sembari mengemudikan motor.

“iyalah, pasti itu,”jawabku sekenanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku jauh dari keluarga dalam jangka waktu yang lumayan lama. Setengah tahun terpisah, kemudian aku kembali hanya sekitar empat belas hari saja bersama keluarga.

**

Bagiku, lumayan sedikit memeras otak membagi waktu empat belas hari ini untuk keluarga, teman dan masyarakat . Hingga akhirnya saya memutuskan waktu bersama teman mulai siang hingga sore dan bersama keluarga dari malam hingga esok pagi. Sebab, kedua orang tuaku masih harus bekerja di pagi harinya.

**

23 Juli 2019 aku menemui rekan-rekan pejuang beasiswa LPDP yang akan mengikuti seleksi tahun ini. Di suatu kafe, kami membahas mengenai persiapan untuk menghadapi wawancara. Rencananya setelah pertemuan ini kami akan mengadakan simulasi wawancara. Sungguh luar biasa semangat mereka. Di tengah kesibukan mengikuti kegiatan komunitas, pekerja freelance bahkan ada yang menjadi dosen, mereka masih meluangkan waktunya untuk mempersiapkan diri mengikuti seleksi beasiswa. Sontak hal itu membuat semangatku pun membara.

**

24 Juli 2019, aku menyempatkan diri untuk hadir dalam kegiatan memperingati Hari Anak Nasional yang diselenggarakan oleh Komunitas Mosikola. Kegiatan ini membahas isu terkait fenomena kasus kekerasan anak yang paling marak terjadi yakni pernikahan anak.

Salah satu hal yang membuatku rindu dengan kota Lima dimensi ini adalah komunitas yang isinya anak muda Kota Palu yang punya semangat dalam membangun daerah. Minggu 28 Juli 2019 aku diminta untuk berbagi informasi mengenai beasiswa LPDP oleh Komunitas Sahabat Beasiswa. Beruntung masih bisa dipertemukan dengan komunitas ini sebagai ruang aktualisasi diri dalam menggapai impian bersama peraih beasiswa lainnya. Aku yang rasanya hanya remahan mom*gi ini, akhirnya bisa berbagi ide dan tips trik mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Yah, semoga bisa memberi suntikan inspirasi bagi mereka yang akan berjuang meraih beasiswa.

Keesokan harinya, dosen yang semangatnya luar biasa ini ngajakin ketemuan. Topik pembahasan utama tidak jauh dari masalah pendidikan di daerah. Actually, kami sempat bekerjasama di sebuah lembaga kursus tahun 2017. Alhamdulillah hingga saat ini kami masih menjaga hubungan siaturahmi dengan baik. Dan tak jarang aku menananyakan ke beliau jika ada kesulitan yang berhubungan dengan wacana bahasa Inggris kromo. :v

Singkatnya, setelah menikmati hidangan khas sulawesi, binte, beliau meminta ku hadir untuk memberi semangat rekan-rekannya di RumahBerbagi.

30 Juli 2019 (Simulasi wawancara)


Menjelang seleksi substansi, kami mengadakan simulasi wawancara. Saat itu, Aku berperan sebagai interviewer bagi teman-teman peserta seleksi. Alhamdulillah bisa berbagi pengalaman nyata dengan mereka. Dulunya posisiku sama seperti mereka berjuang dengan beragam cara sebelum menempuh ujian. Termasuk mengikusi simulasi. Kunci sukses meraih beasiswa salahsatunya berkawan dengan mereka yang sefrekuensi dengan kita. Punya mimpi yang sama dan mau berjuang bersama.

31 Juli 2019.

Akhirnya ini merupakan kegiatan terakhirku sebelum kembali ke Malang. Suatu kebahagiaan tersendiri bagiku bisa berbagi dengan rekan-rekan sahabat rumahberbagi.id, mereka merupakan anak muda Kota Palu yang luar biasa semangatnya dalam mengkampanyekan kesehatan mental. Rata-rata diantara mereka ada yang masih berstatus mahasiswa, namun mereka juga punya impian besar. Salahsatunya menjadi awardee beasiswa LPDP.
Pesanku untuk mereka, mimpi yang terencana harus dipersiapkan dengan matang. Nikmati segala prosesnya. Kadang, jalan yang kita lalui tak semudah yang ada dalam bayangan. Namun, percayalah bahwa Tuhan maha baik, Tuhan maha tahu apa yang layak bagi kita.

You may also like